Damara Alif Pradipta, Dian Sofiah Kurnia Juliasari, Diva Ayu Alfajri
Pelestarian identitas lokal melalui place branding sangat krusial bagi keberlanjutan ekonomi kreatif pedesaan di era globalisasi. Desa Gunungteguh di Bawean, berpotensi besar sebagai sentra kerajinan anyaman pandan liar, namun mengalami stagnasi pasar akibat ketiadaan identitas merek. Penelitian ini memaparkan perancangan identitas visual (branding) Desa Gunungteguh dengan pendekatan kualitatif yang mengintegrasikan Etnografi Visual dan metode Double Diamond. Data empiris dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara (2025) dengan perangkat desa, kemudian dikodifikasi menggunakan semiotika Charles S. Peirce (Ikon, Indeks, Simbol). Temuan mengidentifikasi arsitektur vernakular (Dhurung), topografi ekstrem, estetika pixelated dari anyaman manual, dan mitologi tiga tokoh pendiri sebagai elemen kearifan lokal. Nilai-nilai ini ditransformasikan menjadi logo bermatriks modular yang modern dan sarat makna. Hasil perancangan dan mock-up penerapannya telah dipresentasikan kepada masyarakat, yang menyambutnya sebagai "wajah baru" representatif. Logo ini diharapkan meningkatkan visibilitas Desa Gunungteguh sebagai sentra pengrajin anyaman di pasar domestik dan pariwisata global, sekaligus menjadi perisai pelestarian warisan budaya takbenda bagi generasi penerus