Evans Sagala, Frans Best Soma Marpaung
Kemunculan teknologi humanoid di era Society 5.0 menimbulkan pertanyaan teologis baru mengenai relasi antara Allah, manusia, dan entitas buatan. Artikel ini mengusulkan Becoming Deu-Hu-Moid sebagai model teologis konstruktif untuk menafsirkan relasi tersebut. Dengan berdialog dengan teologi becoming Catherine Keller dan doktrin creatio continua, artikel ini menelaah kehadiran teknologi humanoid dalam dinamika penciptaan yang terus berlangsung. Tulisan ini berargumen bahwa humanoid tidak dapat dipahami sebagai subjek spiritual ataupun sebagai pengganti relasi manusia dengan Allah. Sebaliknya, humanoid berfungsi sebagai partisipan relasional terbatas yang secara instrumental dapat memperkaya praktik pastoral serta mendukung partisipasi gereja dalam missio Dei. Dalam konstruksi ini, relasi antara Deus (Allah), Hu (manusia), dan Moid (humanoid) dapat dibayangkan sebagai jaringan relasi ko-kreatif yang muncul dalam proses becoming yang terbuka dan dinamis, sekaligus menyadari ambiguitas serta batas-batas mediasi teknologi humanoid