Abigael Kabe, Niken Pujirahayu, Zakiah Uslinawaty, Nurhayati Hadjar, Nurnaningsih Hamzah, Dewi Fitriani, Emilia Cantesya Patiara Kabe'
Kayu uru (Elmerrillia ovalis) merupakan salah satu bahan baku utama konstruksi rumah adat Tongkonan di Sulawesi Selatan yang dipilih masyarakat Toraja secara empiris dan turun-temurun. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik anatomi makroskopis dan mikroskopis kayu uru serta mengkaji relevansinya terhadap kesesuaian penggunaannya sebagai komponen bangunan Tongkonan. Pengamatan dilakukan melalui pembuatan preparat sayatan pada tiga bidang orientasi kayu dan maserasi serat, kemudian dianalisis secara deskriptif-komparatif. Hasil menunjukkan kayu uru berwarna kuning, bertekstur halus, dan berserat lurus, dengan pori berukuran besar (304,01 µm) tersusun soliter hingga berganda dalam tata lingkar, jari-jari lebar (170,69 µm) bertipe multiseriat, serta serat panjang kelas II (1671,25 µm) dengan flexibility ratio 0,63. Kombinasi bobot ringan, kekuatan lentur memadai, dan kemudahan pengukiran menjelaskan secara ilmiah kesesuaian kayu uru sebagai komponen tiang, dinding berukir, dan rangka atap Tongkonan, sehingga ketahanan bangunan dalam jangka panjang dapat dipahami sebagai hasil sinergi antara sifat anatomi kayu dan praktik konstruksi tradisional Toraja.