Nanda Rama Hendra N, Rohmad Eko Priyono, Septiyana Baroroh
Wayang kulit merupakan salah satu bentuk tradisi pewayangan Indonesia yang turut menjadi warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO. Wayang kulit terbuat dari material organik sehingga rentan mengalami kerusakan sehingga memerlukan upaya konservasi yang tepat untuk menjaga keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses konservasi wayang kulit melalui teknik konservasi ngisis dan nyopak serta perannya dalam pelestarian material dan nilai budaya wayang kulit. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya (AKNSB) Yogyakarta dan Sanggar Griya Ukir Kulit Sagio. kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konservasi wayang kulit dilakukan melalui tindakan preventif dan kuratif. Perawatan preventif diterapkan melalui teknik ngisis, yaitu mengangin-anginkan wayang pada media eblek untuk mengurangi kelembapan, mencegah pertumbuhan jamur, serta menghindari serangan hama. Sementara itu, perbaikan kuratif dilakukan dengan teknik nyopak, yaitu penambalan bagian wayang yang rusak menggunakan kulit perkamen baru dan perekat tradisional ancur sehingga bentuk, fungsi, dan nilai estetika wayang tetap terjaga. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pemeliharaan kondisi fisik, tetapi juga pada pelestarian pengetahuan, keterampilan, dan teknik tradisional yang diwariskan antargenerasi. Oleh karena itu, konservasi wayang kulit perlu dipandang sebagai upaya terpadu dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya, memperkuat identitas budaya bangsa, serta mendukung pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.