Eirene Kardiani Gulo, Rasid Rachman
Artikel ini berangkat dari kesadaran akan semakin kompleks dan mendesaknya isu kesehatan mental generasi muda. Dalam konteks tersebut, liturgi gereja dimaknai tidak hanya sebagai ruang ritual dan formasi iman, tetapi juga sebagai ruang pastoral. Artikel ini berargumen bahwa praktik pengucapan ya’ahowu dalam liturgi Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) berpotensi menghadirkan ruang pastoral yang menguatkan dan menopang generasi muda Nias dalam pergumulan mereka terkait kesehatan mental. Metode penelitian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan sumber data berupa teks liturgi BNKP, kajian akademik mengenai konsep ya’ahowu, pastoral liturgi, inkulturasi liturgi, serta kesehatan mental generasi muda. Data dilengkapi dengan wawancara mendalam terhadap dua tokoh budaya Nias untuk menggali makna ya’ahowu dan empat remaja Kristen Nias untuk memahami pergumulan mereka terkait kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pengucapan ya’ahowu dalam liturgi BNKP berpotensi mengafirmasi identitas komunitas positif, menyalakan pengharapan, dan menegaskan hidup bermakna bagi umat.