Obed Reinhard Siregar
Diskursus tentang homoseksualitas di Indonesia terus menimbulkan polarisasi di berbagai ranah sosial dan teologis. Dalam konteks teologi Kristen, banyak gereja, atas dasar dogma dan penafsiran tunggal terhadap Kitab Suci, mempertahankan sikap konservatif yang berujung pada penolakan sosio-teologis terhadap kelompok gay, terutama terkait identitas seksualitas mereka. Penelitian ini menawarkan respons teologis reflektif atas ketegangan tersebut dengan memberikan ruang bagi suara dan pengalaman spiritual-seksual kelompok gay. Melalui pendekatan teologi praktis-empiris dan metode hermeneutik-fenomenologis, penelitian ini menghadirkan refleksi teologis yang holistik atas spiritualitas dan seksualitas seorang gay. Tesis utama artikel ini menandaskan bahwa homoseksualitas—secara material dan fenomenologis dipahami sebagai tubuh dan pengalaman dari para individu gay—bukan sekadar objek perdebatan teologis, melainkan merupakan lokus penyataan dan perjumpaan dengan Allah dalam horizon inkarnasional, yang menegaskan kehadiran Yang Ilahi dalam tubuh manusia, sehingga menjadi ruang otentik bagi pengalaman spiritual para individu gay. Penelitian ini menegaskan bahwa kebertubuhan manusia, termasuk pada individu gay, harus dipandang sebagai dimensi penting yang membentuk formasi spiritual. Dengan demikian, artikel ini memperluas wacana teologi praktis-empiris dalam konteks spiritualitas queer di Indonesia.