Kohar Yudoprasetyo, M. Sigit Darmawan, RP Muhammad Aunariq Rinanda
Pembangunan Jembatan Pandansimo sebagai bagian dari Jalan Lintas Selatan di Daerah Istimewa Yogyakarta bertujuan meningkatkan konektivitas antara Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Namun, desain eksisting pada bentang tengah menggunakan sistem CSP dengan jumlah pilar yang besar (±28 pilar) sehingga berpotensi mengganggu aliran Sungai Progo dan menurunkan kinerja hidraulik. Penelitian ini memodifikasi desain bentang tengah pada STA 0+800–STA 1+475 menggunakan box girder beton prategang tipe twin box (lebar total 24 m; dua box @11,75 m dengan jarak 0,50 m) pada jembatan sepanjang 701 m (bentang 69–140,5–140,5–140,5–140,5–69 m), dengan konfigurasi penyangga 5 pilar utama dan 2 pilar penghubung menuju jembatan pendekat. Evaluasi dilakukan melalui pemodelan numerik menggunakan SAP2000 dengan pendekatan staged construction metode balanced cantilever cast in situ. Superstruktur dan pilar dimodelkan sebagai shell element, tendon sebagai frame tendon element, koneksi box girder–pier diasumsikan monolit melalui rigid link, serta kondisi batas diterapkan pada pilecap sebagai jepit pada titik bored pile. Kinerja struktur dievaluasi pada tahap kantilever dan tahap servis (bentang menerus) meliputi tegangan serat, lendutan, tegangan tarik utama, serta perbandingan momen servis terhadap momen retak. Hasil menunjukkan lendutan maksimum tahap kantilever sebesar 14,8 mm, memenuhi batas L/400 = 167,5 mm; pada tahap servis lendutan maksimum 75,85 mm memenuhi batas L/800 = 175,93 mm. Tegangan tarik maksimum pada serat bawah dan atas masing-masing 1,0 MPa dan 0,8 MPa, masih di bawah batas izin 2,33 MPa; tegangan tarik utama termasuk pengaruh gaya angker tetap lebih kecil dari 2,33 MPa; dan momen servis berada di bawah momen retak sepanjang bentang. Dengan demikian, modifikasi box girder balanced cantilever memenuhi kriteria layanan dan memberikan potensi reduksi jumlah pilar pada bentang utama secara signifikan sehingga lebih ramah terhadap aliran sungai.