Chintya Sari, Nurul Azizah
Media sosial secara fundamental telah mengubah paradigma komunikasi, menyatukan berbagai tingkat interaksi dalam satu jaringan. Dengan kemajuan digital, interaksi tatap muka sebagian besar tergantikan, sementara identitas manusia kini dibuat, dibangun, dan dinegosiasikan oleh individu. Fenomena ini menjadi lebih kompleks bagi remaja muslimah yang menghadapi tuntutan ganda: tampil ideal sesuai tren media sosial sekaligus menjaga citra diri yang konsisten dengan nilai keislaman dan ekspektasi komunitas. Fitur Instagram seperti Close Friends dan Feeds mendukung dualitas ini. Penelitian ini fokus pada peran komunikasi digital dalam negosiasi identitas remaja muslimah Wongsorejo. Menggunakan metode kualitatif dengan teori Dramaturgy, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi aktivitas media sosial. Temuan menunjukkan remaja muslimah memiliki pola komunikasi digital berlapis: Feeds digunakan untuk membangun citra publik yang baik, religius, dan sesuai syariat, sementara Close Friends menjadi ruang privat untuk ekspresi autentik, keterbukaan diri, dan manajemen privasi. Instagram berfungsi sebagai sarana representasi diri, dakwah personal, dan pemenuhan kebutuhan sosial, namun juga menghadirkan tekanan untuk menyeimbangkan penerimaan sosial dengan keutuhan diri sebagai muslimah. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik pada Ilmu Komunikasi dengan menawarkan pemahaman lebih kaya tentang pengelolaan citra diri, privasi, dan tuntutan keagamaan remaja di era digital.