Saire Fernando, Mulyono, Ari Hendarno, Ersa Resita, Carli Apriansyah Hutagalung
Pada tahun ajaran 2025/2026, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi atau Permendikbudristek merencanakan untuk mengembalikan penjurusan di SMA. Kebijakan tersebut dengan cepat menjadi medan perdebatan publik yang mengandung berbagai respon dari masyarakat, terutama di YouTube. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis sentimen masyarakat terhadap kebijakan ini menggunakan algoritma Random Forest. Data akan didapat melalui hasil penarikan komentar YouTube pada periode April 2025 – Juni 2025, yang menghasilkan 4181 komentar. Hasil analisis menunjukkan bahwa komentar YouTube pada video mengenai kebijakan pengembalian penjurusan dalam kurikulum SMA memiliki respon yang lebih positif dibandingkan negatif, dengan rasio 18,3% dibanding 5% dengan total netral sebesar 76,7%. Performa model dalam mengklasifikasikan sentimen mencapai akurasi keseluruhan sebesar 83.16%, hasil menunjukkan bahwa model memiliki precision sebesar 77.56%, yang berarti prediksi model cukup terpercaya. Namun, recall berada di angka 57.25%, mengindikasikan bahwa model masih kesulitan mendeteksi seluruh data pada kelas kecil seperti positif dan negatif. Secara keseluruhan, performa model direpresentasikan oleh F1-score sebesar 61.26%. Penelitian ini diharapkan supaya dapat menjadi bahan pertimbangan pemuka pendidikan atau Permendikbudristek dalam menentukan apakah suatu kebijakan itu perlu atau tidak perlu ditetapkan atau diubah.