Esa Ghanim Fadhallah, Resti Sabilla, Annisa Yasmine Aulia, Affandi Prayoga, Zaky Adrian, Afrido Rahmanda, Eka Herlina Fatimatuzzahro, Azka Kautsar Lustrilanang, Zaskia Rahma Andini, Zidane Aulia Rivai
Isu megatumbukan di selatan Pulau Jawa menegaskan perlunya pengembangan material konstruksi yang tahan gempa dan berkelanjutan. Perancangan konstruksi tahan gempa membutuhkan campurann beton yang mampu meredam getaran seismik dengan tetap mempertahankan efisiensi biaya. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat penambahan optimum nanopartikel CaCO₃ dari teritip dan biosilika dari Bacillariophyceae sebagai bahan substitusi sebagian semen pada beton tahan gempa. Konsentrasi bahan substitusi meliputi 0% (kontrol), 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25% dari berat semen dengan rasio tetap CaCO3:biosilika sebesar 1:1 (b/b). Karakterisasi material meliputi X-Ray Fluorescence (XRF), Fourier Transform Infrared (FTIR), dan Particle Size Analysis (PSA) untuk nanopartikel CaCO3, sedangkan biosilika dikarakterisasi menggunakan XRF. Kinerja beton dievaluasi melalui pengujian kuat tekan dan kuat lentur menggunakan Compression Testing Machine (CTM) dan Universal Testing Machine (UTM) pada umur 14 dan 28 hari. Hasil analisis XRF menunjukkan bahwa cangkang teritip mengandung 91,72% Ca, sedangkan biosilika mengandung 98,79% SiO₂. Nanopartikel CaCO₃ yang dihasilkan memiliki ukuran partikel rata-rata 120,1 nm. Pengujian mekanis menunjukkan bahwa tingkat substitusi optimum sebesar 5% menghasilkan penurunan kuat tekan sebesar 16% dan kuat lentur 4,6% dibandingkan kontrol, dengan nilai maksimum masing-masing 21,26 Mpa dan 4,10 MPa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa substitusi 5-10% memberikan keseimbangan terbaik antara kekuatan dan efisiensi bahan dalam formulasi beton tahan gempa. CaCO₃ dari teritip dan biosilika Bacillariophyceae berpotensi dimanfaatkan sebagai substituen semen yang berkelanjutan untuk menghasilkan material konstruksi tahan gempa yang ramah lingkungan dan efisien, khususnya di wilayah pesisir.